Minggu, 09 Juni 2013

Infeksi Cacing terhadap Kesejahteraan Manusia


MAKALAH PARASIT
INFEKSI CACING TERHADAP KESEJAHTERAAN MANUSIA


Disusun oleh :
RIRIN PUJI ASTUTI
A.102.08.053
1B2


AKADEMI ANALIS KESEHATAN NASIONAL
SURAKARTA
2013
BAB I
PENDAHULUAN

Lingkungan hidup menurut Undang-Undang Nomor 23 tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup adalah kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan, dan makhluk hidup, termasuk di dalamnya manusia beserta perilakunya yang mempengaruhi kehidupan dan kesejahteraan manusia.
Indonesia merupakan salah satu negara yang masih menghadapi berbagai masalah kesehatan termasuk masih tingginya prevalensi penyakit infeksi terutama yang berkaitan dengan sanitasi lingkungan dan perilaku higienitas yang belum baik. Salah satu penyakit yang insidennya masih tinggi adalah infeksi cacingan yang merupakan salah satu penyakit yang berbasis sanitasi dan higienitas yang buruk (Depkes RI, 1999).
Keadaan sanitasi lingkungan yang belum memadai, keadaan sosial ekonomi yang masih rendah didukung oleh iklim yang sesuai untuk pertumbuhan dan perkembangan cacing merupakan beberapa faktor penyebab tingginya prevalensi infeksi cacing usus yang ditularkan di Indonesia (Zit, 2000).
            Salah satu penyakit cacingan adalah penyakit cacingan usus yang ditularkan melalui tanah atau sering disebut dengan Soil Transmitted Helminths yang sering dijumpai pada anak usia Sekolah Dasar dimana pada usia ini anak masih sering kontak dengan tanah. Ada 3 jenis cacing yang terpenting adalah cacing gelang (Ascaris lumbricoides), cacing tambang (Ancylostoma duodenale dan Necator americanus), dan cacing cambuk (Trichuris trichiura).(Depkes RI, 2004).
            Infeksi cacing merupakan permasalahan kesehatan masyarakat yang utama di negara miskin atau negara berkembang, dan menempati urutan tertinggi pada angka kesakitan yang ditimbulkan pada anak usia sekolah. Terjadinya infeksi tidak hanya bergantung pada kondisi lingkungan ekologi suatu wilayah saja, tetapi juga bergantung pada standar sosial ekonomi masyarakat setempat.(Bethony, et.al.2004).
Penyakit cacingan merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat di Indonesia. Dari hasil penelitian ternyata prevalensi penyakit cacingan masih tinggi, yaitu 60-70%. Tingginya prevalnsi ini disebabkan oleh iklim tropis dan kelembaban udara tinggi di Indonesia, yang merupakan  lingkungan yang baik untuk perkembangan cacing, serta kondisi sanitasi dan higyene yang buruk.(Depkes, 2004)         
BAB II
PEMBAHASAN


Indonesia merupakan salah satu negara yang masih menghadapi berbagai masalah kesehatan termasuk masih tingginya prevalensi penyakit infeksi terutama yang berkaitan dengan sanitasi lingkungan dan perilaku higienitas yang belum baik. Salah satu penyakit yang insidennya masih tinggi adalah infeksi cacingan yang merupakan salah satu penyakit yang berbasis sanitasi dan higienitas yang buruk (Depkes RI, 1999).
Infeksi cacing merupakan permasalahan kesehatan masyarakat yang utama di negara miskin atau negara berkembang, dan menempati urutan tertinggi pada angka kesakitan yang ditimbulkan pada anak usia sekolah. Terjadinya infeksi tidak hanya bergantung pada kondisi lingkungan ekologi suatu wilayah saja, tetapi juga bergantung pada standar sosial ekonomi masyarakat setempat.(Bethony, et.al.2004).
Prevalensi penyakit cacingan di Indonesia masih sangat tinggi terutama pada anak balita dan usia Sekolah Dasar. Berdasarkan survey yang dilakukan oleh Adi Sasongko di Jakarta periode 1986 – 1991, menemukan bahwa sekitar 60-90% siswa SD terinfeksi oleh cacing. Meskipun tidak mematikan, tetapi cacingan dapat menyebabkan gangguan kesehatan pada manusia berupa menurunnya kondisi gizi dan kesehatan masyarakat. Dalam jangka panjang, pada anak-anak penyakit cacingan dapat berdampak pada gangguan kemampuan dalam belajar.
Anak usia Sekolah Dasar merupakan golongan masyarakat yang diharapkan dapat tumbuh menjadi sumber daya manusia yang potensial di masa yang akan datang sehingga perlu diperhatikan dan disiapkan untuk dapat tumbuh sempurna baik fisik maupun intelektualnya. Dalam hubungan dengan infeksi kecacingan, beberapa peneliti ternyata menunjukkan bahwa usia sekolah merupakan golongan yang sering terkena infeksi kecacingan karena sering berhubungan dengan tanah (Depkes RI,2004).
Penyakit cacingan ditularkan melalui tangan yang kotor, kuku panjang dan kotor menyebabkan telur cacing terselip. Penyebaran penyakit cacing salah satu penyebabnya adalah kebersihan perorangan yang masih buruk. Penyakit cacing dapat menular diantara murid sekolah yang sering berpegangan tangan sewaktu bermain dengan murid lain yang kukunya tercemar telur cacing (Hendrawan, 1997).
Penyakit cacingan merupakan masalah kesehatan masyarakat Indonesia, terutama di daerah pendesaan, ada beberapa faktor yang mempengaruhi diantaranya adalah sanitasi lingkungan yang belum memadai, kebersihan pribadi (Personal Hygiene), tingkat pendidikan dan sosial ekonomi rendah dan perilaku hidup sehat yang belum memadai (Rampengan, 1997).
Salah satu faktor yang menyebabkan terjadinya penularan kecacingan adalah kurangnya pengetahuan tentang kecacingan. Penelitian Wachidanijah,2002 menunjukkan bahwa terdapat kecenderungan makin tinggi pengetahuan samakin baik perilaku dalam hubungan kecacingan.


A.      PENYAKIT CACINGAN
Cacing merupakan salah satu parasit pada manusia dan hewan yang sifatnya merugikan dimana manusia merupakan hospes untuk beberapa jenis cacing yang termasuk Nematoda usus. Sebagian besar dari Nematoda ini masih merupakan masalah kesehatan masyarakat di Indonesia.
Diantara Nematoda usus terdapat sejumlah spesies yang penularannya melalui tanah (Soil Transmitted Helminths) diantaranya yang tersering adalah Ascaris lumbricoides, Necator americanus, Ancylostoma duodenale dan Trichuris trichiura (Srisasi Gandahusada, 2006).
Manusia merupakan hospes definitif beberapa nematoda usus (cacing perut) yang dapat mengakibatkan masalah bagi kesehatan masyarakat. Diantara cacing perut terdapat sejumlah spesies yang ditularkan melalui  tanah (Soil Transmitted Helminths).
Diantara cacing tersebut yang terpenting adalah cacing gelang (Ascaris lumbricoides), cacing tambang (Ancylostoma duodenale dan Necator americanus), cacing cambuk (Trichuris trichiura) dan cacing pita (Taeniasis) (Behrman, 2000).
Cacingan atau sering disebut kecacingan merupakan penyakit endemik dan kronik yang diakibatkan oleh cacing parasit dengan prevalensi tinggi, tidak mematikan, tetapi mengganggu kesehatan tubuh manusia sehingga berakibat menurunkan kondisi gizi dan kesehatan masyarakat. Kecacingan umumnya disebabkan oleh infeksi cacing gelang Ascaris lumbricoides, cacing kremi Oxyuris vermicularis, cacing pita Taenia solium, dan cacing tambang Ancylostoma duodenale (Zulkoni Akhsin, 2007).
Salah satu gejala yang sering ditimbulkan oleh adanya infeksi cacingan adalah muntah dan mencret (diare). Selain itu, Ascaris lumbricoides yang merupakan salah satu jenis cacing perut yang umum dijumpai pada anak-anak dapat menyebabkan kematian karena penyumbatan pada usus halus dan saluran empedu (Siregar, 1996).

B.       CARA PENULARAN
Penyakit cacing yang ditularkan melalui tanah termasuk dalam nematoda saluran cerna. Penularan dapat terjadi melalui 2 cara, yaitu:
1.       Infeksi langsung
Penularan langsung dapat terjadi bila telur cacing dari tepi anal masuk ke mulut tanpa pernah berkembang di tanah. Cara ini terjadi pada cacing kremi (Oxyuris vermicularis) dan Trikuriasis (Trichuris trichiura). Penularan langsung dapat terjadi setelah periode berkembangnya telur di tanah kemudian telur tertelan melalui tangan atau makanan yang tercemar (Ascaris lumbricoides).

2.      Larva menembus kulit
Penularan melalui kulit terjadi pada cacing tambang atau Ancylostomiasis dan Strongylodiasis dimana telur terlebih dahulu menetas di tanah, baru kemudian larva filariform menginfeksi melalui kulit.

C.       MACAM-MACAM PENYAKIT CACING

1.      Askariasis
Penyakit Askariasis disebabkan oleh cacing Ascaris lumbricoides. Parasit ini ditemukan kosmopolit. Survey yang dilakukan di beberapa tempat di Indonesia menunjukkan bahwa prevalensi Ascaris lumbricoides masih cukup tinggi, sekitar 60-90%.
Dalam lingkungan yang sesuai telur yang dibuahi  berkembang menjadi bentuk infektif dalam waktu kurang lebih 3 minggu. Bentuk infektif tertelan manusia menetas di usus halus. Larva menembus dinding usus halus menuju pembuluh darah atau saluran limfe, lalu di alirkan ke jantung, kemudian mengikuti aliran darah ke paru. Larva di paru menembus dinding pembuluh darah, lalu dinding alveolus, masuk rongga alveolus, kemudian naik ke trakea melalui bronkiolus dan bronkus. Dari trakea larva menuju faring, sehingga menimbulkan rangsangan pada faring. Penderita batuk karena rangsangan tersebut dan larva tertelan kembali dalam esofagus lalu menuju ke usus halus.

2.      Ankilostomiasis
Pejamu cacing tambang adalah manusia. Penyakit cacing tambang menyerang semua umur dengan proporsi terbesar pada anak. Belum ada keterangan yang pasti mengapa banyak anak yang diserang, tetapi penjelasan yang paling mungkin adalah karena aktifitas anak yang relatif tidak higienis dibandingkan dengan orang dewasa. Penyebaran cacing ini di Indonesia dengan prevalensi tinggi, terutama di daerah pedesaan sekitar 40%.
Telur menetas menjadi larva rhabditiform kemudian berubah menjadi larva filariform yang menembus kulit. Infeksi terjadi bila larva filariform menembus kulit. Infeksi juga dapat terjadi dengan menelan larva filariform dari makanan atau minuman yang tercemar.

3.      Enterobiasis
Penyakit cacing kremi tersebar di seluruh dunia dengan konsentrasi pada daerah-daerah yang faktor perilaku sehatnya masih rendah. Meskipun penyakit ini menyerang semua usia, namun penderita terbanyak adalah anak usia 5-14 tahun. Hal ini karena perilaku menggaruk dan daya tahan tubuh yang masih rendah pada anak.
Cacing dewasa betinabermigrasi pada malam hari ke daerah perianal untuk bertelur. Telur akan terdeposit di sekitar area ini. Hal ini akan menyebabkan rasa gatal di sekitar anus. Apabila digaruk maka penularan dapat terjadi dari kuku jari tangan ke mulut, infeksi oleh diri sendiri. Metode penularan lainnya adalah dari orang-ke orang melalui pakaian, peralatan tidur. Penularan juga dapat terjadi dalam lingkungan yang terkontaminasi cacing kremi.

4.      Trichuriasis
Cacing ini bersifat kosmopolit, terutama di temukan di daerah panas dan lembab.
Cara infeksi langsung bila secara kebetulan menelan telur yang berisi larva yang merupakan bentuk infektif. Larva keluar melalui dinding telur dan masuk ke dalam usus halus. Sesudah menjadi dewasa cacing turun ke usus bagian distal dan masuk ke daerah kolon, terutama sekum.

5.      Taeniasis
Jenis cacing pita daging ada tiga, yaitu Taenia solium (pada babi), Taenia saginata (pada sapi), Cysticercus cellulosae (pada babi). Cacing ini terdapat pada daging yang tidak dimasak atau dimasak tetapi kurang matang.

D.       FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI

1.      Menurut Hotes (2003) mengemukakan bahwa faktor-faktor resiko yang dapat mempengaruhi penyakit cacingan yang penyebarannya melalui tanah, antara lain:
1)      Lingkungan
Penyakit cacingan biasanya terjadi di lingkungan yang kumuh terutama di daerah kota atau daerah pinggiran (Hotes, 2003). Sedangkan menurut Phiri (2000) yang dikutip Hotes (2003) bahwa jumlah prevalensi Ascaris lumbricoides banyak ditemukan di daerah perkotaan. Sedangkan menurut Albonico yang dikutip Hotes (2003) bahwa jumlah prevalensi tertinggi ditemukan di daerah pinggiran atau pedesaan yang masyarakat sebagian besar masih hidup dalam kekurangan.
Bertambahnya penduduk yang tidak seimbang dengan area pemukiman timbul masalah yang disebabkan oleh pembuangan kotoran manusia yang meningkat. Peranan tinja dalam penyebaran penyakit sangat besar. Tinja dapat mengkontaminasi makanan, minuman, air, tanah, dan benda-benda sehingga dapat menyebabkan penyakit bagi orang lain. Air yang tidak bersih menimbulkan gangguan kesehatan seperti penyakit cacingan dan penyakit perut.

2)      Tanah
Penyebaran penyakit cacingan dapat melalui terkontaminasinya tanah dengan tinja yang mengandung telur Trichuris trichiura, telur tumbuh dalam tanah liat yang lembab dan tanah dengan suhu optimal ± 30ºC (Depkes R.I, 2004:18). Tanah liat dengan kelembapan tinggi dan suhu yang berkisar antara25ºC-30ºC sangat baik untuk berkembangnya telur Ascaris lumbricoides sampai menjadi bentuk infektif (Srisasi Gandahusada, 2000:11).Sedangkan untuk pertumbuhan larva Necator americanus yaitu memerlukan suhu optimum 28ºC-32ºC dan tanah gembur seperti pasir atau humus, dan untuk Ancylostoma duodenale lebih rendah yaitu 23ºC-25ºC tetapi umumnya lebih kuat (Srisasi Gandahusada, 2006).


3)      Iklim
Penyebaran Ascaris lumbricoides dan Trichuris trichiura yaitu di daerah tropis karena tingkat kelembabannya cukup tinggi. Sedangkan untuk Necator americanus dan Ancylostoma duodenale penyebaran ini paling banyak di daerah panas dan lembab. Lingkungan yang paling cocok sebagai habitat dengan suhu dan kelembapan yang tinggi terutama di daerah perkebunan dan pertambangan (Onggowaluyo, 2002).

4)      Perilaku
Perilaku mempengaruhi terjadinya infeksi cacingan yaitu yang ditularkan lewat tanah (Peter J. Hotes, 2003:21). Anak-anak paling sering terserang penyakit cacingan karena biasanya jari-jari tangan mereka dimasukkan ke dalam mulut, atau makan nasi tanpa cuci tangan (Oswari, 1991).
Perilaku juga dapat dicerminkan dengan kebiasaan memakai alas kaki, kebiasaan mencuci tangan, kebiasaan memotong kuku, dan kebiasaan makan.

5)      Sosial Ekonomi
Sosial ekonomi mempengaruhi terjadinya cacingan menurut Tshikuka (1995) dikutip Hotes (2003) yaitu faktor sanitasi yang buruk berhubungan dengan sosial ekonomi yang rendah.

6)      Status Gizi
Cacingan dapat mempengaruhi pemasukan (intake), pencernaan (digestif), penyerapan (absorbsi), dan metabolisme makanan. Secara keseluruhan infeksi cacingan dapat menimbulkan kekurangan zat gizi berupa kalori dan dapat menyebabkan kekurangan protein serta kehilangan darah. Selain dapat menghambat perkembangan fisik,anemia, kecerdasan dan produktifitas kerja, juga berpengaruh besar dapat menurunkan ketahanan tubuh sehingga mudah terkena penyakit lainnya (Depkes R.I, 2006).

2.      Menurut Soedarto (1991) secara epidemiologik ada beberapa faktor yang mempengaruhi kajadian kecacingan yaitu, faktor sanitasi lingkungan dan faktor manusia. Dalam penanggulangan cacingan pengawasan sanitasi air dan makanan sangat penting, karena penularan cacing terjadi melalui air dan makanan yang terkontaminasi. Sanitasi lingkungan merupakan hal penting yang harus diperhatikan. Untuk mencapai kemampuan hidup di masyarakat maka harus memperhatikan penyediaan air bersih, pengelolaan jamban dan kamar mandi, dan pengelolaan limbah.
Dari faktor manusia adalah hygiene perorangan. Hygiene perorangan adalah upaya dari seseorang untuk memelihara dan mempertinggi derajat kesehatannya sendiri yang meliputi memelihara kebersihan, makanan yang sehat, cara hidup yang teratur, meningkatkan daya tahan tubuh dan kesehatan jasmani, menghindari terjadinya penyakit, dan pemeriksaan kesehatan.
Hygiene perorangan sangat berhubungan dengan sanitasi lingkungan, artinya apabila melakukan hygiene perorangan harus diikuti atau didukung dengan sanitasi lingkungan yang baik. Kaitan keduanya dapat dilihat misalnya pada saat mencuci tangan sebelum makan dibutuhkan air bersih yang harus memenuhi syarat kesehatan.

E.       DAMPAK CACINGAN
1)        Dampak Kecacingan terhadap Kualitas Sumber Daya Manusia
Dalam rangka mewujudkan bangsa yang maju dan mandiri serta sejahtera lahir dan batin, pembangunan kesehatan ditujukan untuk mewujudkan manusia sehat, produktif dan mempunyai daya saing yang tinggi. Salah satu ciri bangsa yang maju adalah bangsa yang mempunyai derajat kesehatan yang tinggi pula, pada pembangunan jangka panjang kedua pembangunan kesehatan diarahkan untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat dan kualitas sumber daya manusia.
Penyakit kecacingan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi terhadap penurunan kualitas SDM, mengingat kecacingan akan menghambat pertumbuhan fisik dan kecerdasan anak serta produktifitas kerja. Sampai saat ini, penyakit kecacingan masih merupakan masalah kesehatan masyarakat Indonesia terutama di daerah pedesaan. Sedangkan salah satu faktor yang mempengaruhi tingginya prevalensi kecacingan adalah kebersihan pribadi (Depkes RI, 2002).

2)        Dampak Kecacingan terhadap Intelektual dan Kecerdasan Anak
Secara umum, berpengaruh terhadap tingkat kecerdasan mental dan prestasi anak sekolah. Hasil penelitian Bundy tahun 1992 menunjukkan bahwa anak-anak sekolah dasar di Jamaika yang terinfeksi cacing cambuk mengalami penurunan kemampuan berfikir.
Penyakit ini tidak menyebabkan orang mati mendadak, akan tetapi menyebabkan penderita semakin lemah karena kehilangan darah yang menahun sehingga menurunkan prestasi. Di samping itu daya tahan tubuh juga menurun sehingga dapat memperberat penyakit lainnya. (Depkes RI, 1995).
Siswa yang terinfeksi cacingan akan mengalami 5L yaitu letih, loyo, lelah, lalai, dan lemas. Bila hal ini mengganggu anak maka akan mengganggu pertumbuhannya. Kondisi 5L akan membuat anak mudah sakit. Selain itu, kemampuan belajar anak akan menurun, karena daya tangkap anak yang terinfeksi cacingan lebih lemah dari pada anak yang tidak cacingan.

3)        Pengaruh Kondisi Sanitasi Lingkungan terhadap Kecacingan
Pengaruh lingkungan global dan semakin meningkatnya komunitas manusia serta kesadaran penciptaan hygiene dan sanitasi yang semakin menurun, merupakan faktor yang mempunyai andil besar terhadap penularan parasit pada umumnya dan cacing yang hidup pada manusia khususnya, seperti pembuangan tinja yang kurang memenuhi syarat kesehatan dan penyediaan air bersih yang tidak memenuhi syarat kesehatan.
    
F.        PENCEGAHAN
Pencegahan infeksi berulang sangat penting dengan membiasakan hidup bersih dan sehat seperti menghindari kontak dengan tanah yang kemungkinan terkontaminasi feses manusia, cuci tangan dengan sabun dan air sebelum memegang makanan, dan cuci makanan yang jatuh ke lantai (Lilisari,2007).
            Upaya pencegahan dan penanggulangan infeksi cacingan dapat dengan cara meningkatkan pengetahuan dan perilaku keluarga tentang hygiene perorangan serta sanitasi lingkungan dan makanan yang meliputi mandi memakai sabun 2x sehari, memotong dan membersihkan kuku, cuci tangan sebelum makan dan sehabis buang air besar, memasak makanan dan minuman, buang air besar di jamban yang memenuhi syarat, dan menjaga kebersihan lingkungan rumah menggunakan air bersih.

BAB III
KESIMPULAN

Dari pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa hubungan antara parasit helmints dengan kesejahteraan masyarakat adalah sangat erat. Cacingan dapat mengakibatkan menurunya daya tahan tubuh terhadap penyakit dan terhambatnya tumbuh kembang karena cacing mengambil sari makanan yang penting bagi tubuh, misalnya protein, karbohidrat dan zat besi yang dapat menyebabkan anemia bahkan penyakit cacingan dapat menyebabkan kebodohan pada anak-anak sehingga terjadi penurunan Sumber Daya Manusia. Anak yang menderita penyakit cacingan mempunyai kecenderungan prestasi belajar yang kurang baik. Di samping itu daya tahan tubuh juga menurun sehingga dapat memperberat penyakit lainnya.
Menurunnya daya tahan tubuh terhadap penyakit dan terhambatnya tumbuh kembang akan menurunkan produktifitas kerja dalam mencari pendapatan guna memenuhi kebutuhan primernya. Dengan tidak tercukupinya kebutuhan primer manusia, maka kesejahteraan manusia tersebut menurun. Tingkat kesejahteraan masyarakat dapat dilihat melalui besarnya pendapatan yang diterima oleh masyarakat yang bersangkutan.








DAFTAR PUSTAKA

·         Sungkar, Saleha.2008.Parasitologi Kedokteran.Jakarta:Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia
·         Widoyono.2001.Penyakit Tropis.Jakarta:Erlangga
·         Sri Alemina Ginting.2002. Hubungan antara Status Sosial Ekonomi dengan Kejadian Kecacingan pada Anak Usia Sekolah Dasar di Desa Suka Kecamatan Tiga Panah Kabupaten Karo Provinsi Sumatera Utara. Sumatera Utara: Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara
·         Jalaluddin.2009.Pengaruh Sanitasi Lingkungan, Personal Hygiene, dan Karakteristik Anak terhadap Infeksi Kecacingan pada Murid Sekolah Dasar di Kecamatan Blang Mangat Kota Lhokseumawe.Medan:Universitas Sumatera Utara
·         Pipit, Festi.Hubungan antara Penyakit Cacingan dengan Status Gizi pada Anak Sekolah Dasar. Diambil dari <<http://www.fik.umsurabaya.ac.id/jurnal/HUBUNGAN-ANTARA-PENYAKIT-CACINGAN-DENGAN-STATUS-GIZI-PADA-ANAK-SEKOLAH-DASAR-SD-DISEKOLAH-DASAR-AL-MUSTOFA-SURABAYA.pdf. >> Di unduh 15 Mei 2013 pukul 19.00 WIB











0 komentar:

Poskan Komentar