Sabtu, 06 April 2013

Pengambilan Darah Vena


BAB I
PENDAHULUAN

Dalam kegiatan pengumpulan sampel darah dikenal istilah phlebotomi yang berarti proses mengeluarkan darah. Ada 3 macam cara untuk memperoleh darah yaitu skinpuncture, venipuncture, dan arteri. Venipuncture adalah cara yang paling umum dilakukan, oleh karena itu istilah phlebotomis sering dikaitkan dengan pengambilan darah vena (venipuncture).
Pada pengambilan darah vena, umumnya diambil dari vena mediana cubiti yang terletak pada sisi lipatan siku. Vena ini terletak di permukaan kulit, cukup besar, dan tidak dekat dengan syaraf. Apabila tidak memungkinkan, vena cephalica dan vena basilica bisa menjadi pilihan dalam pengambilan darah vena. Venipuncture pada vena basilica harus dilakukan dengan hati-hati karena letaknya berdekatan dengan arteri branchialis dan syaraf mediana. Jika vena basilica dan cephalica tidak dapat digunakan, maka dapat dilakukan pengambilan darah di vena pergelangan tangan dan vena kaki.
Ada dua cara dalam pengambilan darah vena, yaitu cara manual dan cara vakum. Cara manual dilakukan dengan menggunakan alat suntik (syringe), sedangkan cara vakum dengan menggunakan tabung vakum (vacutainer).


BAB II
PEMBAHASAN

A.    Faktor Penyulit dalam Pengambilan Darah Vena

1.      Faktor Fisik Pasien
1)      Kegemukan
Pada pasien yang gemuk terkadang phlebotomis sulit untuk menemukan pembuluh darah vena yang akan ditusuk karena terhalang oleh jaringan lemak. Orang yang gemuk memiliki vena yang lebih dalam dan tidak terlihat sehingga sulit untuk dipalpasi.

2)      Oedema
Edema merupakan penimbunan cairan tubuh. Phlebotomis menjadi sulit untuk menemukan letak vena. Jika darah yang diambil pada tempat yang oedema, maka darah akan tercampur dengan cairan oedema sehingga akan terjadi pengenceran. Phlebotomis dapat mencari pembuluh darah lain yang tidak oedema.

3)      Luka bakar
Pasien yang mengalami luka bakar, jaringan pada tubuhnya rusak dan mudah mengalami infeksi. Jangan melakukan pengambilan di daerah ini. Pasien sangat rentan terhadap infeksi.

2.      Faktor Psikologis Pasien
Faktor penderita yang kurang kooperatif disebabkan penderita merasa ketakutan sehingga penderita menolak untuk dilakukan pengambilan darah. Cara mengatasinya dengan mencari bantuan petugas lain dan menenangkan pasien agar pasien mengerti perlunya untuk dilakukan pengambilan darah. Bila tidak berhasil, jelaskan secara tertulis pada lembar permintaan laboratorium.

3.      Faktor Teknik
Gagal memperoleh darah
Gagal pengambilan darah disebabkan :
1)      Cara pengambilan darah vena yang salah oleh phlebotomis
2)      Tusukan sudah tepat tetapi darah tidak cukup terhisap, kemungkinan :
a.       Kesalahan teknik
·         Arah tusukan tidak tepat
·         Sudut tusukan terlalu kecil atau terlalu besar
·         Salah menentukan vena yang dipilih
·         Tusukan terlalu dalam atau kurang dalam
·         Pembuluh bergeser karena tidak terfiksasi

b.      Kesalahan non teknik
·         Pembuluh darah menyempit (kolaps) karena rasa takut yang berlebihan dan menyebabkan volume darah berkurang.
Volume darah berkurang karena pendarahan berat, kekurangan cairan tubuh, dan tekanan darah turun.


B.     Komplikasi
Dalam pengambilan darah vena yang salah dapat menyebabkan komplikasi, antara lain:
1.      Pingsan (Syncope)
Pingsan adalah keadaan dimana pasien kehilangan kesadaran beberapa saat karena penurunan tekanan darah. Gejala dapat berupa rasa pusing, keringat dingin, pengelihatan kabur, nadi cepat, bahkan bisa sampai muntah. Pingsan dapat disebabkan karena pasien mengalami rasa takut yang berlebihan atau karena pasien puasa terlalu lama.
Sebelum dilakukan phlebotomi hendaknya seorang phlebotomis menanyakan apakah pasien memiliki kecenderungan untuk pingsan saat dilakukan pengambilan darah. Jika benar maka pasien diminta untuk berbaring. Phlebotomis hendaknya memberikan pengertian kepada pasien agar pasien merasa nyaman dan tidak takut. Agar pasien tidak takut, phlebotomist sebaiknya mengajak pasien berbicara agar perhatiannya teralihkan.

Pengambilan darah vena pada orang pingsan harus diberi oksigen agar pembuluh darah membuka sebab pada orang pingsan pembuluh darahnya menutup.

Cara Mengatasi :
·      Hentikan pengambilan darah
·      Pasien dibaringkan di tempat tidur, kepala dimiringkan ke salah satu sisi
·      Tungkai bawah ditinggikan (lebih tinggi dari posisi kepala)
·      Longgarkan baju dan ikat pinggang pasien
·      Minta pasien untuk menarik nafas panjang
·      Minta bantuan kepada dokter
·      Jika pasien belum sempat dibaringkan, minta pasien menundukkan kepala diantara kedua kakinya dan menarik nafas panjang



2.      Hematoma
Terjadi karena :
a.       Vena terlalu kecil untuk jarum yang dipakai
b.      Jarum menembus seluruh dinding vena
c.       Jarum dilepaskan pada saat tourniquet masih dipasang
d.      Tusukan berkali-kali
e.       Tusukan tidak tepat
f.       Pembuluh darah yang rapuh

Cara mengatasi :

Jika terjadi hematoma lepaskan jarum dan tekan dengan kuat sehingga darah tidak menyebar dan mencegah pembengkakan. Apabila ingin cepat hilang, kompres dengan air hangat seraya diurut dan diberi salep trombopop.

3.      Petechiae
Bintik kecil merah dapat muncul karena pendarahan kapiler di bawah kulit. Ini karena kelainan pembuluh darah. Jika terjadi setelah dibendung dapat dikarenakan pembendungan yang terlalu lama.

4.      Nyeri pada bekas tusukan
Rasa nyeri berlangsung tidak lama sehingga tidak memerlukan penanganan khusus. Nyeri bisa timbul akibat alkohol yang belum kering atau akibat penarikan jarum yang terlalu kuat.

Cara pencegahan :
-          Setelah kulit didesinfeksi, tunggu alkohol hingga mengering sebelum dilakukan pengambilan darah.
-          Penarikan jarum jangan terlalu kuat.

5.      Vena kolaps
Terjadi karena penarikan plunger terlalu lama atau terlalu cepat.

6.      Pendarahan berlebihan
Pendarahan yang berlebihan terjadi karena terganggunya sistem koagulasi darah pada pasien. Hal ini bisa terjadi karena :
-          Pasien melakukan pengobatan dengan obat antikoagulan sehingga menghambat pembekuan darah.
-          Pasien menderita gangguan pembekuan darah.
-          Pasien mengidap penyakit hati kronis sehingga pembentukan protrombin dan fibrinogennya terganggu.

Cara mengatasi :
·         Menekan kuat pada tempat pendarahan
·         Memanggil dokter untuk penanganan selanjutnya

7.      Kerusakan vena
Terjadi karena pengambilan darah yang berulang kali pada tempat yang sama sehingga meyebabkan kerusakan dan peradangan setempat. Hal ini mengakibatkan pembuluh darah menutup.
Pencegahannya dengan menghindari pengambilan berulang kali pada tempat yang sama.

8.      Komplikasi neurologis
Komplikasi neurologis dapat bersifat lokal karena tertusuknya syaraf dilokasi penusukan. Hal ini dapat menimbulkan keluhan nyeri atau kesemutan yang menjalar ke lengan. Serangan kejang juga dapat terjadi.

Cara mengatasi :
·         Hentikan pengambilan darah
·         Baringkan pasien dengan kepala dimiringkan ke salah satu sisi, bebaskan jalan nafas dan hindari agar lidah tidak tergigit
·         Hubungi dokter

9.      Terambilnya darah arteri
Salah penusukan dapat mengakibatkan terambilnya darah arteri karena phlebotomis menusuk pembuluh darah arteri. Jadi, seorang phlebotomis harus bisa menentukan pembuluh darah yang akan ditusuk.

10.  Alergi
Alergi bisa terjadi karena bahan-bahan yang dipakai dalam phlebotomi, misalnya alergi terhadap antiseptik dan plester. Gejala alergi bisa ringan atau berat, berupa kemerahan dan gatal.

Phlebotomis hendaknya menanyakan apakah pasien memiliki riwayat alergi terhadap bahan-bahan yang akan digunakan dalam proses pengambilan darah. Jika pasien alergi terhadap alkohol 70% maka dapat diganti dengan larutan iodium atau dengan betadine.

Cara mengatasi :
·         Tenangkan pasien dan beri penjelasan
·         Panggil dokter untuk penanganan selanjutnya


C.    Faktor yang harus diperhatikan
Ada beberapa faktor yang harus diperhatikan seorang phlebotomis dalam pengambilan darah, antara lain :
1.      Keadaan basal
Keadaan basal mengacu pada kondisi fisik pasien di pagi hari. Pasien dianjurkan untuk puasa kurang lebih 12 jam. Keadaan ini biasa dipakai untuk penentuan nilai normal.


Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi keadaan basal :
a.       Usia
b.      Jenis kelamin
c.       Kehamilan
d.      Dehidrasi
e.       Diet
f.       Obat-obatan
g.      Stress

2.      Persyaratan pemeriksaan
1)      Persiapan pasien
Beritahukan kepada pasien tentang hal-hal yang perlu dilakukan dan tidak perlu dilakukan oleh pasien sebelum dilakukan pengambilan darah.
·      Persiapan secara umum, seperti : puasa selama 10-12 jam sebelum pengambilan darah (untuk pemeriksaan glukosa darah puasa, cholesterol, trigliserid, ureum, dan kreatinin) tidak melakukan aktifitas fisik yang berat, tidak merokok, tidak minum alkohol.
2)      Waktu pengambilan
Waktu pengambilan darah pada pasien harus dicatat karena dapat digunakan untuk menentukan hasil dari pemeriksaan tersebut. Jika terjadi kesalahan hasil maka dapat dilacak letak kesalahannya dari waktu pengambilan.
3)      Peralatan yang digunakan
Pastikan bahwa semua peralatan yang digunakan untuk proses phlebotomi sudah tersedia di dekat phlebotomis. Peralatan yang digunakan harus memenuhi persyaratan, seperti :
·      Bersih
·      Kering
·      Tidak mengandung bahan kimia
·      Steril
·      Sekali pakai (disposable)
·      Wadah tidak pecah atau retak
4)      Antikoagulan
Antikoagulan adalah bahan kimia yang digunakan untuk mencegah pembekuan darah. Beberapa antikoagulan yang sering dipakai adalah EDTA (Ethylene Diamine Tetraacetic Acid), citrat, dan heparin. Pemilihan antikoagulan harus sesuai dengan jenis pemeriksaan dan takarannya harus sesuai.
3.      Faktor teknik

-       Pada umumnya vena yang baik adalah vena yang besar, letaknya superfisial, dan terfiksasi.
-       Lokasi penusukan harus diperhatikan. Phlebotomis tidak boleh menusuk pada bagian yang terdapat luka, hematoma, infeksi, oedema. Untuk pengambilan darah, selain tidak dilakukan pengambilan pada tempat-tempat tersebut juga tidak boleh dilakukan pada daerah yang sedang dipasang infus.
-       Pada waktu penusukan posisi kemiringan jarum yang dibentuk adalah 15º - 20º.
-       Bila tusukan sudah dalam tetapi tidak mengenai vena maka jangan sekali-kali membelokkan jarum kearah vena karena dapat menimbulkan rasa sakit. Tindakan yang benar adalah jarum ditarik jangan sampai lepas kemudian ditusukkan ke arah vena.
-       Pembendungan vena dengan tourniquet jangan terlalu lama karena dapat menyebabkan hemokonsentrasi setempat.
-       Jangan melepas tourniquet sesudah jarum dilepaskan karena menyebabkan hematoma.
-       Kulit yang ditusuk masih basah oleh alkohol maka dapat menyebabkan darah hemolisis.
4.      Pemeriksaan CITO
Pengambilan dan informasi harus segera ( medical emergency )
Spesimen terjadwal (glukosa 2 jam PP, GTT, Cortisol, Enzim-enzim jantung).
5.      ASAP ( As Soon As Possible )
Hasil pemeriksaan segera diminta oleh dokter tetapi kondisi pasien tidak kritis


DAFTAR PUSTAKA

Riswanto.2009. Pengumpulan Sampel Darah. Diambil dari <http://labkesehatan.blogspot.com/2009/11/pengambilan-spesimen.html.>.Diakses pada 13 Desember 2012 pukul 16.30 WIB.
Adie Area.2011. Komplikasi Flebotomi . Diambil dari <http://adiyarea.blogspot.com/2011/06/komplikasi-flebotomi.html>. Diakses pada 14 Desember 2012 pukul 17.45 WIB.
Dewi Muliaty. Teknik-Teknik Flebotomi . Laboratorium Klinik Prodia: PAT (Persatuan Ahli Teknologi Laboratorium Kesehatan Indonesia).



































0 komentar:

Poskan Komentar